Rabu, 26 November 2008

Dramaturgi I-10

DRAMATURGI I
Pertemuan 10

Pengertian, Tugas, dan Fungsi Sutradara

 Guru
 Pimpinan Rombongan
 Syekh
 Dukun
 Manager
 Produser
 Sutradara (director)

Tatanan Kerja Sutradara
(pendekatan “klasik”)

A. MENENTUKAN NADA DASAR
Mencari motif lakon dan yang mempengaruhi jalannya lakon serta memiliki karakteristik
• kedalaman pemaknaan lakon dan prinsip dasar
• suasana khusus
• mempertegas arah/kecenderungan lakon (mem-perbesar maupun memperkecil), misalnya lakon tragedi, komedi, tragedi-komedi, melodrama, dst.
B. MENENTUKAN CASTING
Menentukan para pemain yang didasari atas suatu analisa lakon secara komprehensif
• casting by ability: berdasarkan kemampuan dari pemain, baik secara teknis (vokal, kecerdasan, kondisi sosio-psikologis dan fisik) dan non teknis (kesiapan dan kemauan maupun kesehatan dari pemain)
• casting by type: berdasarkan tipe fisik pemain sesuai peran yang akan dimainkan
• antitype casting/educational casting: berdasarkan konfrontasi terhadap tipe fisik pemain dan berada di luar kelaziman secara konvensional
• casting to emotional temprament: berdasarkan kecenderungan emosi maupun tempramen pemain yang merupakan bagian dari kebiasaan hidup pemain
• therapeutic-casting: berdasarkan konfrontasi watak yang dimiliki pemain yang bertujuan sebagai media penyembuhan maupun penyadaran

C. MERENCANAKAN CARA DAN TEKNIS PERTUNJUKAN
Sutradara merancang kebutuhan pertunjukan, misalnya penataan pakaian/busana, tata rias (make up), dekorasi, pencahayaan hingga ilustrasi musik berdasarkan analisis lakon dan bekerjasama dengan para penata yang memungkinkan kebutuhan pertunjukan dapat terpenuhi secara efektif dan efisien.

• MENYUSUN MISE EN SCENE
Mise en scene: segala perubahan yang terjadi pada wilayah permainan yang disebabkan oleh perpindahan atau pergerakan pemain maupun peralatan pertunjukan.
• sikap maupun gerakan serta perilaku pemain
 berbaring atau tidur
 duduk maupun berdiri di lantai maupun di kursi atau mungkin di meja
 berdiri sejajar maupun berada di tempat yang lebih tinggi
 memukul maupun melempar
• pengelompokan atau komposisi
 1/2
 1/3
 1/4
 1/5

• horizontal : tenteram, aman, sentosa, seimbang
• vertikal : ekspresi meninggi, perasa, angkuh, kekerasan/pertengkaran
• diagonal : ketegangan jiwa, pelarian
• lurus : kekuatan, kesederhanaan, datar
• melengkung : spontanitas, keramahtamahan, kegembiraan, kebebasan, sakral
• terputus-putus : kekacauan, kekalutan
• variasi saat masuk dan keluar pemain
• variasi penempatan perabotan atau peralatan yang terdapat di atas pentas
• ekspresi kontras dengan pewarnaan pada busana serta efek penataan cahaya
• kesadaran terhadap ruang
• kesadaran terhadap kedudukan masing-masing atau diantara para pemain
• menghidupkan seluruh keberadaan yang ada di atas pentas pertunjukan

MENGUATKAN MAUPUN MELEMAHKAN SCENE
• Penekanan adegan sesuai dengan interpretasi sutradara tanpa mengubah pemaknaan lakon
• Setiap adegan yang muncul dari para pemain, terkadang kurang dapat dikontrol oleh pemain, sehingga sutradara perlu memberikan penguatan pada adegan yang masih lemah, dan sebaliknya (misalnya, dalam bangunan emosi pemain), sehingga terjadi keseimbangan dalam seluruh pertunjukan

D. MENCIPTAKAN ASPEK-ASPEK LAKU/MOVEMENT
• Memperkaya permainan yang diciptakan aktor tanpa pengarahan dari sutradara (aliran laissez faire)
• Memperkaya permainan yang merupakan kreasi sutradara (aliran Gordon Craig)

MEMPENGARUHI JIWA PEMAIN
• Dalam setiap latihan maupun pertunjukan, pemain terkadang mengalami kendala psikologis atau kejiwaan, maka sutradara dapat memberikan masukan dalam memecahkan kendala yang dihadapi pemain, termasuk ketika hendak memasuki suatu peran yang dimainkannya

Identifikasi Penulis Naskah Drama
• Setiap orang memiliki riwayat hidup masing-masing. Dalam perjalanan hidup tersebut terdapat berbagai aktivitas yang dapat dikatakan memiliki nilai tersendiri atau sangat bernilai, sehingga seseorang mendapatkan penghargaan atau memiliki arti penting dalam menjalani kehidupannya. Penulis naskah membangun naskahnya dengan segala upaya membangun “potret” kehidupan yang disaksikan maupun dialaminya. Dengan demikian, naskah drama yang lahir dari seorang penulis naskah drama memiliki ikatan yang sangat erat .
• Seorang sutradara tidak dapat bersikap sesuka hatinya dengan alasan kreatif sekalipun, untuk menempatkan sebuah naskah tanpa memperhatikan sumber-sumber kreatif dari seorang penulis naskah. Saini KM mengatakan ”pembahasan yang agak mendalam tentang latar belakang naskah dan dramawannya (penulis naskah drama), dengan tergambarnya proses kreatif di belakang bahasan-bahasan, diharapkan mereka (seorang sutradara atau orang yang berminat terhadap suatu karya drama) akan memiliki pengetahuan tambahan yang menjadi penopang bagi mereka di dalam memberikan penjelasan-penjelasan kepada para siswa di sekolah” (baca Saini KM, Dramawan dan Karyanya, Bandung: Angkasa, 1993: 7-8) (bisa juga publik pada umumnya).
• Memahami latar belakang penulis lakon bisa lebih dari sebagai tambahan pengetahuan. Hal ini bisa berarti sebagai sebuah pendorong proses kreatif yang baru dalam arti bahwa karya seorang penulis lakon dapat membuka cara pandang baru bagi pembacanya, sekaligus penonton yang akan menjadi objek tontonan ketika naskah drama tersebut dipentaskan, bisa pula sebagai inspirasi dalam mengembangkan aspek-aspek teknis, seperti cara berperan, cara berucap, hingga cara memperlakukan pakaian, dan tata panggung yang dibutuhkan. Dengan kata lain, Suyatna Anirun, sutradara dan aktor dari Studiklub Teater Bandung mengatakan, bahwa “sutradara harus menyukai naskah yang bersangkutan (yang hendak dia sutradarai) hingga memungkinkan pengembangannya sebagai sumber kreativitas” (Tommy F. Awuy, at, al. (penyunting), Teater Indonesia, Konsep, Sejarah, Problema, Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, 1999: 74). Untuk itu, sutradara harus melakukan pengkajian tentang visi/misi yang terkandung dalam naskah yang diisyaratkan oleh pengarangnya, mempelajari latar belakang pengarang dan kecenderungan-kecenderungan dalam karyanya (Awuy, 1999: 75).
Riwayat Hidup Penulis adalah upaya untuk memahami
• latar belakang kehidupan penulis
• Masa kelahiran penulis, masa pendidikan hingga kematiannya (bila penulis naskah atau orang yang menuturkan cerita tersebut telah meninggal)
• Lingkungan yang membesarkan penulis lakon
• Penulis dan zamannya adalah persentuhan penulis naskah dengan persoalan-persoalan yang berkembang pada masa hidupnya.
• Aspek Kultural Penulis adalah latar budaya yang menjadi dasar kehidupan penulis naskah, sehingga mempengaruhinya dalam menulis naskah
• Kritik merupakan tinjauan masyarakat pada umumnya, peneliti atau pengamat pada khususnya dalam membaca atau mengikuti perjalan penulis naskah dalam berkarya.
• Karya-karya terbaik merupakan gambaran terhadap karya atau ciptaan-ciptaan penulis naskah selama hidupnya yang memiliki nilai sejarah atau perubahan yang menentukan dan dipandang sebagai semacam masterpiece atau memiliki pengaruh yang kuat dalam masyarakat.


Ringkasan

• Seorang sutradara adalah seorang pemimpin. Ia memiliki tanggungjawab secara artistik terhadap segala kebutuhan pertunjukan, mulai dari mempersiapkan materi cerita atau naskah atau problema keseharian hingga menjadi sebuah pertunjukan.
• Pada awalnya, penyutradaraan teater di anggap sebagai bentuk pengajaran. Orang Yunani menyebutnya didaskalos, yang berarti “guru”. Guru memberikan berbagai kebijakan dan teknik bermain berdasarkan konvensi atau aturan-aturan yang ada. Pada tahap ini, karya drama juga sering muncul dari para guru. Pada abad tujuh belas, dikenal dengan sebutan pengarang-guru-sutradara.
• Sutradara dalam teater tradisional, tidak secara langsung menjadi pengarang atau penulis cerita atau lakon, karena lakon dalam teater tradisional bersifat turun temurun. Bukan saja sutradara yang sudah memahami lakon itu, tetapi rakyat kebanyakan juga mengetahui cerita yang dimainkan. Sehingga, peran yang diambil sutradara bersama para pemainnya adalah menceritakan kembali lakon secara verbal berdasarkan dari cerita tutur tersebut.
• Sutradara juga harus mencoba menghindari terlalu banyak pemeran yang memiliki bentuk tubuh yang sama, atau kualitas vokal yang sama, bila ia membutuhkan adanya kontras. Jadi, ada semacam keseimbangan yang hendak dicapai: mencari pemeran-pemeran yang cocok untuk suatu peran yang khusus, disamping terciptanya kerjasama dalam kerja teater secara berkesinambungan.
• Seorang sutradara hendaklah memahami, bahwa peran merupakan sumber plot, sebab kejadian-kejadian dapat dikembangkan, terutama melalui ucapan dan akting para pemeran itu. Perbuatan manusia yang saling bertentangan atau berbenturan melahirkan peristiwa. Pada dasarnya, setiap manusia selalu ingin memenuhi semua keinginannya. Hal itu akan mengembangkan suatu peristiwa menjadi rentetan peristiwa-peristiwa yang berkelanjutan.
• Dalam setiap peristiwa terdapat pola-pola yang selalu terbentuk. Pola tersebut menjadi semacam permainan dalam kehidupan sehari-hari. Pola tersebut menjadi rangkaian aktivitas yang mencirikan kepribadian seseorang maupun kepribadian penokohan yang dimainkannya. Dalam menciptakan peran, sutradara juga melakukan pelatihan terhadap bentuk- maupun jenis-jenis gerak. Kelahiran gerak tersebut dapat distimulasi melalui berbagai cara improvisasi. Misalnya, improvisasi secara individual, secara berpasangan, dengan menggunakan perabotan, dengan melakukan tanggapan atau respon terhadap bunyi dan musik.
• Berdasarkan perangai atau tingkah laku seorang sutradara, menurut Nano Riantiarno terdapat sedikitnya empat jenis “gaya” sutradara, yakni sutradara pemarah, sutradara pendiam, sutradara cerewet, dan sutradara romantis (Awuy, 1999: 175-180). Dari keempat jenis gaya ini, seorang sutradara harus mampu menyesuaikan dirinya di tengah-tengah kominitas kelompoknya. Ada saatnya sutradara harus lebih banyak pendiam atau sebaliknya lebih cerewet. Namun demikian, harus dihindari sutradara yang banyak bersikap marah atau romantis. Bagaimanapun juga, sutradara harus mampu membangun kerjasama yang dinamis diantara para anggotanya.
• Penyutradaraan dalam teater yang dilakukan oleh seorang sutradara juga merupakan sebuah pekerjaan, dan bukan sebagai sesuatu yang bersifat iseng. Proses penyutradaraan tersebut harus dilakukan dengan serius dan membutuhkan ketekunan, keuletan hingga kesabaran yang tinggi.




Topik Diskusi

Untuk sutradara, harus mampu menyutradarai melalui sebuah produksi pertunjukan. Di samping itu, mampu menjelaskan dan memahami tujuan dan tugas sutradara –termasuk melakukan analisa naskah, serta penulis naskah. Beberapa pertanyaan di bawah ini dapat menuntun menuju kompetensi dasar Sutradara
a. Sebutkan tujuan pada tingkat fundamental dan teknis sutradara
b. Sebutkanlah tugas sutradara
c. Buatlah sebuah analisa naskah
d. Buatlah deskripsi tentang penulis naskah

Melaksanakan atau menerapkan tujuan sutradara, tugas sutradara, dan penulis naskah:
a. Temukanlah sebuah naskah atau persoalan keseharian yang menarik.
b. Lakukanlah penganalisaan dan kajian mendalam terhadap naskah atau persoalan keseharian tersebut
c. Kumpulkanlah orang-orang yang akan memerankan naskah atau persoalan keseharian tersebut, beserta segala komponen artistik dan produksi yang dibutuhkan
d. Lakukanlah latihan bersama. Latihan ini bisa dimulai dengan melakukan proses membaca secara bersama-sama, dilanjutkan dengan penyeleksian terhadap pern yang diambil oleh peserta latihan. Latihan dilanjutkan dengan melakukan proses membaca berkali-kali, dan membangun tafsiran secaradialogis. Masing-masing pihak memiliki suara yang sama. Namun demikian, seorang sutradara yang telah ditunjuk membuat arah atau rencana terhadap tafsiran-tafsiran tersebut. Sehingga, semua persoalan penyutradaraan tertuju pada diri sutradara.
e. Pertunjukkanlah hasil latihan yang telah dilakukan

Adaptasikanlah persoalan-persoalan sutradara yang terjadi di tempat pelaksanaan proses penyutradaraan.
a. Kumpulkan dan susunlah sejumlah persoalan yang ada.
b. Klasifikasikanlah persoalan-persoalan tersebut
c. Buatlah kerangka persoalan berdasarkan bagian-bagian yang saling berkaitan
d. Buatlah konsepsi dari beberapa pendapat orang lain atau peserta lain.
e. Temukanlah dasar pemikiran atau konsep atau teori dalam memecahkan persoalan tersebut

Berikut ini beberapa pernyataan untuk didiskusikan dalam kelompok:
1. Sutradara harus mengutamakan pendapat orang lain, agar dianggap demokratis
2. Sutradara adalah interpretator awal
3. Sutradara ada seorang diktator bagi kelompoknya
4. Sutradara sebaiknya memilih pemain yang wajahnya cantik dan tampan, agar penonton tertarik menyaksikannya.
5. Sutradara sebaiknya menulis naskah sendiri, agar lebih mudah memahaminya.
6. Sutradara harus mengutamakan aktor sebagai pemain dibandingkan dengan komponen lainnya, seperti penata artistik dan manajemen, karena aktorlah yang disaksikan langsung oleh penonton.
7. Terdapat tiga aspek karakter, yaitu Sosiologis, Psikologis, dan Fisiologis. Sedangkan aspek Moral bisa digunakan, bisa pula tidak.
8. Penulis naskah drama penting diketahui agar mampu memahami drama tersebut secara lebih mendalam.
9. Penulis naskah drama sebaiknya berasal dari kalangan sendiri yang memahami situasi dan kebiasaan kelompok.


Bersambung ke Pertemuan 11

Tidak ada komentar: