DRAMATURGI I
Pertemuan 8
Seni Peran
• Seni Peran atau sering juga disebut akting (acting) sama tuanya dengan keberadaan teater.
• Seni peran atau acting, dalam kamus berarti proses, cara, perbuatan memahami perilaku yang diharapkan dan dikaitkan dengan seseorang.
• Menurut Yapi Tambayong, seni peran atau acting adalah suatu pekerjaan, bukan sekedar kegiatan. Ia harus menjadi pegangan aktor sejak dini.
• Kesadaran Estetis: Kebenaran realitas diri aktor di atas realitas alami menentukan dorongan keindahan untuk diekspresikan
• Kesadaran Etis: Menerima pikiran hakiki dari yang maha kuasa
• Kesadaran Ekonomis: suatu usaha, upaya, pekerjaan dari ikhtiar kemanusiaan
ETIS
ESTETIS EKONOMIS
• Teater dapat disaksikan dengan adanya seseorang maupun sekelompok orang yang berbuat, bertindak, berperilaku, bergerak, dan berperan untuk suatu tujuan, atau mempertunjukkan karakter atau penokohan tertentu, maupun mempersonifikasikan kehidupan, itulah sang aktor.
• Aktor yang baik menurut WS Rendra (1982: 1) adalah yang bisa menjelmakan perannya dengan hidup sekali. Artinya, seorang aktor dapat meyakinkan orang lain atas peran yang dimainkannya. Misalnya, ketika seseorang memerankan petani, maka ia mampu meyakinkan orang lain bagaimana cara memegang cangkul, berbicara, maupun mengungkapkan cara-cara bertani secara meyakinkan. Inilah yang dimaksudkan dengan prinsip dari seni peran, acting is believing.
• Azas Seni Peran
Non realistik
Asas-asas
Seni Peran
Ekstrospeksi
Realistik
Introspeksi
Retrospeksi
• Dengan perkataan lain, seperti disebutkan oleh Richard Boleslavsky, seseorang memerankan suatu peran merupakan proses kehidupan sukma manusia yang menerima kelahirannya berkat seni. Semua panca indera diaktifkan untuk melakukan berbagai penggalian atau penjelajahan, pencarian, dan investigasi, sehingga suatu peran benar-benar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan yang dijalani manusia.
6 Ajaran Seni Peran Richard Boleslavsky
1 Konsentrasi atau Pemusatan Pikiran
• ”Pendidikan” Tubuh
• Pengembangan Intelektual dan Kebudayaan
• Pendidikan dan Latihan Sukma
2 Ingatan Emosi
• Ingatan terhadap gejolak jiwa yang berkembang
3 Laku Dramatis: Ekspresi Emosi
Hukum Trisesa: Hukum Alam yang terdiri dari:
• Leitmotif (Ide Pokok)
• Bagian-bagiannya
• Perwujudannya dalam Ketunggalan yang Menyeluruh
4 Pembangunan Watak
• Menelaah Struktur Psikis Peran
• Memberikan Identifikasi
• Mencari Hubungan Emosi dengan Peran
• Penguasaan Teknis
5 Observasi atau Pengamatan
• Menjelalajahi Segala Kemungkinan Pemeranan
6 Irama
Tiga Bahan Aktor
• Mimik : Pernyataan/Perbahan Raut Muka
Disebut juga bertipe Primer
• Plastik : Cara Bersikap dan Pergerakan Anggota
Badan
Disebut juga Bertipe Dramatis
• Diksi : Cara Penggunaan Suara/Ucapan
Di sebut juga Bertipe Individual
Aktor sebagai Pencipta
• Teori Tujuan Berperan
Teori Ilusi
Teori Interpretasi
• Aliran Metode Berperan
Emosional
Intelektual
Tahapan Pelatihan Aktor Teater, Film dan TV
• Kemampuan ekspresi
a. Aktor dan dirinya serta kehidupan sehari-hari
b. Aktor dan gestur
c. Pemusatan pemikiran dan relaksasi
d. Aktor dan Suaranya
e. Aktor dan Artikulasinya
f. Aktor dan Lingkungannya
• Kemampuan analisa
a. Aktor dan pikirannya
b. Ritme
c. Melodi
d. Aktor dan Naskah
e. Struktur adegan
Ringkasan
Seni peran merupakan bagian terpenting dalam teater. Pendekatan Boleslavsky hanya merupakan salah satu contoh dalam menerap-kan langkah berperan. (Dalam pertemuan selanjutnya kita akan membicarakan pendekatan dan langkah yang lain). Pemeranan di Televisi dan Radio memiliki perbedaan signifikan dengan pang-gung. Hal ini disebabkan oleh media berperan yang berbeda. Na-mun demikian, yang terpenting bagi pemeran adalah mempersiap-kan dirinya secara maksimal dan optimal melalui langkah-langkah yang sesuai dengan peran yang akan dimainkannya.
Topik Diskusi
1. Apakah yang anda pahami tentang Seni Peran?
2. Sebutkan unsur-unsur yang anda butuhkan bila anda hendak memerankan suatu peran dalam sebuah pertunjukan Teater
3. Cobalah perhatikan suatu peran yang dimainkan oleh aktor di teater. Bagaimana pendapat anda, dan apakah mereka telah menguasai langkah-langkah berperan yang ditawarkan Boleslavsky?
4. Apakah yang anda lakukan agar anda dapat melakukan pemusatan pikiran?
5. Bagaimana perbedaan seni peran panggung dengan Televisi maupun Radio? Jelaskan kelebihan dan kekurangannya!
Bersambung ke Pertemuan 9
Rabu, 26 November 2008
Dramaturgi I-7
DRAMATURGI I
Pertemuan 7
Dramaturgi di lingkungan Pendidikan:
Anak-anak, Remaja dan Mahasiswa
• Anak-anak
• Drama anak-anak, drama yang dimainkan anak-anak ini memiliki beberapa ciri:
A. Drama disesuaikan dengan kecenderungan anak. Dunia bermaian anak dapat disetarakan dengan perilaku anak
B. Pilihan anak-anak –dan bukan pilihan orang tua atau dewasa, merupakan bentuk ungkapan yang didahulukan
C. Kebebasan dalam berinteraksi di dorong pada pilihan yang bersifat tuntunan, dan pembedaan yang baik dan buruk dengan segala dampak yang ditimbulkannya
• Remaja/SMP/SMU/MTs/MA
• Drama remaja, drama yang dimainkan kalangan remaja ini memiliki beberapa ciri:
A. Sesuai dengan kecenderungan sosial, psikis, dan fisik remaja
B. Bahasa gaul dan bahasa keseharian yang mendorong kreatif siswa harus didahulukan
C. Pilihan kalangan remaja harus mendapat bimbingan yang mengarahkan pada pendewasaan dirinya
• Mahasiswa
• Drama mahasiswa, drama yang dimainkan kalangan perguruan tinggi, memiliki beberapa proposisi:
A. Kemampuan berpikir dan menjadikan drama memiliki wacana yang sesuai dengan perkembangan nilai-nilai kemanusiaan yang ada, dan memerlukan proses eksplorasi bersama dalam pencapaian gagasan-gagasan yang spesifik dalam memahami suatu persoalan.
B. Konsep dramatik yang lebih luas merupakan tuntutan yang tak bisa dihindari. Segalam macam bentuk dramatik maupun teateral, bukan persoalan yang baru, tetapi persoalan yang bersinergi dengan proses kreatif yang berlangsung
• Dramaturgi di lingkungan pendidikan, bagaimanapun juga harus mengikuti arah yang tegas dalam upaya mencerdaskan kehidupan. Jadi, bukan berarti serba boleh, dan asal jadi. Justru di lingkungan pendidikan tersebut, peningkatan kualitas karya-karya drama maupun teater di bentuk sedemikian rupa, sehingga teater di luar lingkungan pendidikan dapat melakukan proses belajar.
Ringkasan
Pembedaan masing-masing wilayah usia dalam dramaturgi bukan berarti terjadi suatu perubahan signifikan dalam Dramaturgi tersebut. Perbedaan tersebut hanyalah suatu kesadaran terhadap adanya perkembangan fisik, sosial, maupun psikologis dan filosofis. Bagaimana pun juga, upaya penerapan drama sangat berkaitan dengan perkembangan dan pengalaman hidup manusia. Usia anak-anak tentulah berada dalam konteks yang lebih sederhana. Anak-anak yang masih dalam suasana dan perkembangan tubuh untuk bermain, lebih mendapatkan prioritas utama. Sedangkan drama di sekolah menengah merupakan proses pematangan usia menuju dewasa. Pemahaman drama pun mengikuti perkembangan pola pikir yang tersedia atau yang memingkinkan bagi kalangan usia sekolah menengah atau remaja. Sedangkan drama di lingkungan mahasiswa, tentu berhadapan dengan pola pendidikan yang lebih kompleks, namun memiliki berbagai substansi intelektual atau keilmuan yang sesuai dengan masing-masing kebutuhan mahasiswa.
Topik Diskusi
1. Bagaiaman pendapat anda tentang drama untuk kebutuhan pendidikan. Cobalah indentifikasi kebutuhan tersebut untuk usia anak-anak, remaja atau sekolah menengah, dan mahasiswa
2. Jelaskan pendapat anda tentang keadaan drama untuk kalangan anak-anak, remaja dan mahasiswa.
3. Apakah anda sepakat dengan adanya penjenjangan usia dalam drama. Bila anda sepakat, jelaskan pendapat anda. Dan, bila tidak sepakat, jelaskanlah pendapat anda
Bersambung ke Pertemuan 8
Pertemuan 7
Dramaturgi di lingkungan Pendidikan:
Anak-anak, Remaja dan Mahasiswa
• Anak-anak
• Drama anak-anak, drama yang dimainkan anak-anak ini memiliki beberapa ciri:
A. Drama disesuaikan dengan kecenderungan anak. Dunia bermaian anak dapat disetarakan dengan perilaku anak
B. Pilihan anak-anak –dan bukan pilihan orang tua atau dewasa, merupakan bentuk ungkapan yang didahulukan
C. Kebebasan dalam berinteraksi di dorong pada pilihan yang bersifat tuntunan, dan pembedaan yang baik dan buruk dengan segala dampak yang ditimbulkannya
• Remaja/SMP/SMU/MTs/MA
• Drama remaja, drama yang dimainkan kalangan remaja ini memiliki beberapa ciri:
A. Sesuai dengan kecenderungan sosial, psikis, dan fisik remaja
B. Bahasa gaul dan bahasa keseharian yang mendorong kreatif siswa harus didahulukan
C. Pilihan kalangan remaja harus mendapat bimbingan yang mengarahkan pada pendewasaan dirinya
• Mahasiswa
• Drama mahasiswa, drama yang dimainkan kalangan perguruan tinggi, memiliki beberapa proposisi:
A. Kemampuan berpikir dan menjadikan drama memiliki wacana yang sesuai dengan perkembangan nilai-nilai kemanusiaan yang ada, dan memerlukan proses eksplorasi bersama dalam pencapaian gagasan-gagasan yang spesifik dalam memahami suatu persoalan.
B. Konsep dramatik yang lebih luas merupakan tuntutan yang tak bisa dihindari. Segalam macam bentuk dramatik maupun teateral, bukan persoalan yang baru, tetapi persoalan yang bersinergi dengan proses kreatif yang berlangsung
• Dramaturgi di lingkungan pendidikan, bagaimanapun juga harus mengikuti arah yang tegas dalam upaya mencerdaskan kehidupan. Jadi, bukan berarti serba boleh, dan asal jadi. Justru di lingkungan pendidikan tersebut, peningkatan kualitas karya-karya drama maupun teater di bentuk sedemikian rupa, sehingga teater di luar lingkungan pendidikan dapat melakukan proses belajar.
Ringkasan
Pembedaan masing-masing wilayah usia dalam dramaturgi bukan berarti terjadi suatu perubahan signifikan dalam Dramaturgi tersebut. Perbedaan tersebut hanyalah suatu kesadaran terhadap adanya perkembangan fisik, sosial, maupun psikologis dan filosofis. Bagaimana pun juga, upaya penerapan drama sangat berkaitan dengan perkembangan dan pengalaman hidup manusia. Usia anak-anak tentulah berada dalam konteks yang lebih sederhana. Anak-anak yang masih dalam suasana dan perkembangan tubuh untuk bermain, lebih mendapatkan prioritas utama. Sedangkan drama di sekolah menengah merupakan proses pematangan usia menuju dewasa. Pemahaman drama pun mengikuti perkembangan pola pikir yang tersedia atau yang memingkinkan bagi kalangan usia sekolah menengah atau remaja. Sedangkan drama di lingkungan mahasiswa, tentu berhadapan dengan pola pendidikan yang lebih kompleks, namun memiliki berbagai substansi intelektual atau keilmuan yang sesuai dengan masing-masing kebutuhan mahasiswa.
Topik Diskusi
1. Bagaiaman pendapat anda tentang drama untuk kebutuhan pendidikan. Cobalah indentifikasi kebutuhan tersebut untuk usia anak-anak, remaja atau sekolah menengah, dan mahasiswa
2. Jelaskan pendapat anda tentang keadaan drama untuk kalangan anak-anak, remaja dan mahasiswa.
3. Apakah anda sepakat dengan adanya penjenjangan usia dalam drama. Bila anda sepakat, jelaskan pendapat anda. Dan, bila tidak sepakat, jelaskanlah pendapat anda
Bersambung ke Pertemuan 8
Budaya Lokal Masih Terabaikan
Budaya Lokal Masih Terabaikan
Sampaikan Pesan dengan Komunikasi yang Efektif
Bandung, Kompas - Pemerintah masih kurang serius mengangkat budaya lokal masyarakat. Kondisi ini harus dimanfaatkan oleh para seniman sebagai celah untuk membangun komunikasi dengan masyarakat dan mengangkatnya menjadi hasil seni.
Koreografer tari Oos Koswara mengatakan, suatu saat budaya dan kearifan lokal hanya akan menjadi sejarah. "Generasi tua biasanya menyimpan berbagai kearifan lokal menjadi bagian perilaku sehari-hari, dan jarang yang mau secara terbuka membagikannya kepada generasi muda sehingga generasi muda yang harus aktif menggali dari mereka," kata Oos, Sabtu (2/6) malam, sebelum pementasan sendratari Pangirut Marongge di Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat.
Menurut Oos, berbagai bentuk budaya lokal harus mendapat apresiasi yang lebih dari para seniman. Sebab, merekalah yang memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengeksplorasinya.
Maman Noor, pelukis dan Ketua Juri Kompetisi Seni Lukis Jawa Barat 2007, melihat kondisi yang sama. Kegelisahan para pelukis terhadap eksistensi budaya lokal Jawa Barat diekspresikan melalui berbagai bentuk figur budaya lokal yang dipadukan dengan budaya modern.
Dalam Kompetisi Seni Lukis Jawa Barat, Maman Noor melihat, beberapa peserta mampu menuangkan kegelisahannya terhadap kelangsungan budaya lokal dalam lukisan.
Maman mengatakan, lukisan itu menunjukkan para seniman dari generasi terkini mampu memanfaatkan celah untuk mengekspresikan kegelisahan masyarakat.
Seniman Putu Wijaya berpendapat, seniman memiliki tugas ganda dalam kesehariannya. Selain mengaktualisasikan pendapat pribadi untuk disajikan dalam hasil seninya, para seniman juga menjadi corong bagi masyarakat kecil, termasuk terhadap kelangsungan budaya lokal di masyarakat.
Salah satu cara yang efektif untuk mengangkat budaya dan kearifan lokal, dengan menggelarnya sebagai tontonan bagi masyarakat.
Selama ini banyak seniman yang terjebak pada pengangkatan tema, tetapi melupakan bentuk komunikasi yang efektif dengan masyarakat sebagai penonton. Akibatnya, pesan yang ingin disampaikan tidak tercapai.
Kepala Seksi Pemanfaatan Taman Budaya Jawa Barat Romlah mengatakan, salah satu cara menyampaikan garapan para seniman kepada masyarakat adalah menggelarnya di tempat terbuka.
Kebanyakan masyarakat umum yang awam seni lebih nyaman berada di lingkungan yang mirip tempat mereka bersosialisasi sehari-hari. Di Jawa Barat pemanfaatan teater terbuka di Taman Budaya menjadi salah satu strategi untuk mengusung budaya lokal agar dikenal kembali oleh masyarakat kecil.
Jawa Barat termasuk yang mulai aktif menggelar seni pertunjukan untuk konsumsi masyarakat kecil dalam kemasan yang elegan. Di Yogyakarta seni pertunjukan sering terbentur ketersediaan ruang terbuka. Akibatnya, seni pertunjukan dikemas dengan kaku untuk memenuhi jadwal, seperti untuk acara sekaten. (aha)
Sampaikan Pesan dengan Komunikasi yang Efektif
Bandung, Kompas - Pemerintah masih kurang serius mengangkat budaya lokal masyarakat. Kondisi ini harus dimanfaatkan oleh para seniman sebagai celah untuk membangun komunikasi dengan masyarakat dan mengangkatnya menjadi hasil seni.
Koreografer tari Oos Koswara mengatakan, suatu saat budaya dan kearifan lokal hanya akan menjadi sejarah. "Generasi tua biasanya menyimpan berbagai kearifan lokal menjadi bagian perilaku sehari-hari, dan jarang yang mau secara terbuka membagikannya kepada generasi muda sehingga generasi muda yang harus aktif menggali dari mereka," kata Oos, Sabtu (2/6) malam, sebelum pementasan sendratari Pangirut Marongge di Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat.
Menurut Oos, berbagai bentuk budaya lokal harus mendapat apresiasi yang lebih dari para seniman. Sebab, merekalah yang memiliki kesempatan lebih banyak untuk mengeksplorasinya.
Maman Noor, pelukis dan Ketua Juri Kompetisi Seni Lukis Jawa Barat 2007, melihat kondisi yang sama. Kegelisahan para pelukis terhadap eksistensi budaya lokal Jawa Barat diekspresikan melalui berbagai bentuk figur budaya lokal yang dipadukan dengan budaya modern.
Dalam Kompetisi Seni Lukis Jawa Barat, Maman Noor melihat, beberapa peserta mampu menuangkan kegelisahannya terhadap kelangsungan budaya lokal dalam lukisan.
Maman mengatakan, lukisan itu menunjukkan para seniman dari generasi terkini mampu memanfaatkan celah untuk mengekspresikan kegelisahan masyarakat.
Seniman Putu Wijaya berpendapat, seniman memiliki tugas ganda dalam kesehariannya. Selain mengaktualisasikan pendapat pribadi untuk disajikan dalam hasil seninya, para seniman juga menjadi corong bagi masyarakat kecil, termasuk terhadap kelangsungan budaya lokal di masyarakat.
Salah satu cara yang efektif untuk mengangkat budaya dan kearifan lokal, dengan menggelarnya sebagai tontonan bagi masyarakat.
Selama ini banyak seniman yang terjebak pada pengangkatan tema, tetapi melupakan bentuk komunikasi yang efektif dengan masyarakat sebagai penonton. Akibatnya, pesan yang ingin disampaikan tidak tercapai.
Kepala Seksi Pemanfaatan Taman Budaya Jawa Barat Romlah mengatakan, salah satu cara menyampaikan garapan para seniman kepada masyarakat adalah menggelarnya di tempat terbuka.
Kebanyakan masyarakat umum yang awam seni lebih nyaman berada di lingkungan yang mirip tempat mereka bersosialisasi sehari-hari. Di Jawa Barat pemanfaatan teater terbuka di Taman Budaya menjadi salah satu strategi untuk mengusung budaya lokal agar dikenal kembali oleh masyarakat kecil.
Jawa Barat termasuk yang mulai aktif menggelar seni pertunjukan untuk konsumsi masyarakat kecil dalam kemasan yang elegan. Di Yogyakarta seni pertunjukan sering terbentur ketersediaan ruang terbuka. Akibatnya, seni pertunjukan dikemas dengan kaku untuk memenuhi jadwal, seperti untuk acara sekaten. (aha)
Dramaturgi I-6
DRAMATURGI I
Pertemuan 6
Berbagai Aplikasi Dramaturgi
Drama Panggung
• Drama panggung merupakan karya drama yang diperuntukkan bagi media panggung
• Media panggung memiliki kekuatan face to face (tatap muka) yang lebih tinggi dari drama radio maupun televisi dan sinetron
• Tingkat komunikasi drama panggung lebih hangat. Artinya, hubungan aktor dan penonton sangat terasa dekat. Bahkan, interaksi sangat dimungkinkan terjadi
Drama Radio
• Drama radio merupakan karya drama yang diperuntukkan bagi media radio
• Media radio sangat mengutamakan efek audio. Untuk itu, bahasa auditif sangat diperlukan guna membangun karakter tokoh maupun kejelasan cerita. Meskipun dalam konteks ini peran seorang tokoh dalam menyampaikan pesan dengan penekanan kalimat demi kalimat sangat dibutuhkan.
• Komunikasi yang dingin dalam drama radio, membutuhkan kekuatan imajinatif naskah untuk menggambarkan suatu peristiwa, karena tidak ada penonton, tetapi pemirsa atau pendengar
• Penggunaan efek suara sangat dibutuhkan
• Drama radio disebut juga closet drama, karena adanya kesulitan dalam pemanggungan. Drama ini sangat mungkin untuk di baca saja. Misalnya, ada adegan pembunuhan, adegan orang terbang melayang-layang dan sebagainya.
• Drama radio Satria Madangkara pernah menjadi drama yang sangat fenomenal di Indonesia
Drama Televisi
• Drama televisi merupakan karya drama yang diperuntukkan bagi media televisi
• Berbeda dengan sinetron, karena lebih padat
• Komunikasi bersifat dingin, karena tidak ada interaksi antara penonton dan pertunjukannya.
• Bersifat audio-visual. Karena sifatnya tersebut, penonton seperti menyaksikan drama panggung, namun dalam frame yang lebih kecil.
• Drama televisi sering diproduksi dalam jumlah yang kecil
• Menurut Naratama, drama (fiksi) televisi adalah format acara televisi yang diproduksi dan dicipta melalui proses imajinasi kreatif dari kisah-kisah drama atau fiksi yang di rekayasa dan di kreasi ulang. Format yang digunakan merupakan interpretasi kisah kehidupan yang diwujudkan dalam suatu runtutan cerita dalam sejumlah adegan. Adegan-adegan tersebut akan menggabungkan antara realitas kenyataan hidup dengan fiksi atau imajinasi para kreatornya. Contoh drama percintaan (love story), tragedy, horror, komedi, legenda, aksi (action), dan sebagainya.
• Drama (non fiksi) televisi adalah format acara televisi yang di produksi dan di cipta melalui proses pengolahan imajinatif kreatif dari realitas kehidupan sehari-hari tanpa harus menginterpretasi ulang dan tanpa harus menjadi dunia khayalan. Non drama bukanlah sebuah runtutan cerita fiksi dari setiap pelakunya. Untuk itu, format-format progran acara non-drama merupakan sebuah runtutan pertunjukan kreatif yang mengutamakan unsur hiburan yang dipenuhi dengan aksi. Gaya, dan musik. Contoh: Talk Show, Konser musik, dan variety show.
• Drama televisi, berbeda dengan berita (news).
Sinetron
• Drama sinetron merupakan karya drama yang diperuntukkan bagi media sinetron (sinema elektronik)
• Mirip dengan Film, namun lebih banyak merupakan persoalan keluarga. Namun berbeda dengan film karena media yang berbeda.
• Komunikasi dingin, karena tidak ada interaksi antara penonton dan pertunjukannya.
• Bersifat audio-visual. Karena sifatnya tersebut, penonton seperti menyaksikan drama panggung, namun dalam frame yang lebih kecil.
• Telah menjadi industri, karena meningkatnya kecenderungan publik berhubungan dengan televisi. Sinetron dalam satu dasa warsa ini berkembang sedemikian pesat, karena dukungan yang besar, dan diindikasikan dapat menggantikan film dalam memenuhi tontonan publik.
• Baik Sinetron maupun drama televisi, terdapat tiga korporasi penting, yaitu produser, penyutradaraan (sutradara), dan penulis naskah
• Memiliki konteks hiburan, dan beberapa hal yang berkaitan dengan drama radio, seperti sifat drama maupun mekanisme drama fiksi dan non fiksi
Ringkasan
Penerapan drama yang sangat luas, memungkinkan drama dapat terus mengalami perkembangan yang signifikan. Namun demikian, pasang surut perkembangan penerapan drama tersebut, juga ditentukan oleh pekembangan teknologi maupun kondisi sosial ekonomi. Persoalan ekonomi menjadi penting ketika media televisi maupun radio mendapat dukungan dari iklan yang menghidupi mereka.
Topik Diskusi
1. Jelaskan perbedaan drama panggung, radio, televisi dan sinetron
2. Bagaimana pendapat anda tentang penerapan masing-masing drama panggung, radio, televisi dan televisi pada masa sekarang ini
3. Jelaskan perkembangan teknologi dalam penerapan drama
Bersambung ke Pertemuan 7
(selanjutnya –lebih rinci dan lengkap, dapat mengikuti perkuliahan Drama Televisi dan Drama Radio)
Pertemuan 6
Berbagai Aplikasi Dramaturgi
Drama Panggung
• Drama panggung merupakan karya drama yang diperuntukkan bagi media panggung
• Media panggung memiliki kekuatan face to face (tatap muka) yang lebih tinggi dari drama radio maupun televisi dan sinetron
• Tingkat komunikasi drama panggung lebih hangat. Artinya, hubungan aktor dan penonton sangat terasa dekat. Bahkan, interaksi sangat dimungkinkan terjadi
Drama Radio
• Drama radio merupakan karya drama yang diperuntukkan bagi media radio
• Media radio sangat mengutamakan efek audio. Untuk itu, bahasa auditif sangat diperlukan guna membangun karakter tokoh maupun kejelasan cerita. Meskipun dalam konteks ini peran seorang tokoh dalam menyampaikan pesan dengan penekanan kalimat demi kalimat sangat dibutuhkan.
• Komunikasi yang dingin dalam drama radio, membutuhkan kekuatan imajinatif naskah untuk menggambarkan suatu peristiwa, karena tidak ada penonton, tetapi pemirsa atau pendengar
• Penggunaan efek suara sangat dibutuhkan
• Drama radio disebut juga closet drama, karena adanya kesulitan dalam pemanggungan. Drama ini sangat mungkin untuk di baca saja. Misalnya, ada adegan pembunuhan, adegan orang terbang melayang-layang dan sebagainya.
• Drama radio Satria Madangkara pernah menjadi drama yang sangat fenomenal di Indonesia
Drama Televisi
• Drama televisi merupakan karya drama yang diperuntukkan bagi media televisi
• Berbeda dengan sinetron, karena lebih padat
• Komunikasi bersifat dingin, karena tidak ada interaksi antara penonton dan pertunjukannya.
• Bersifat audio-visual. Karena sifatnya tersebut, penonton seperti menyaksikan drama panggung, namun dalam frame yang lebih kecil.
• Drama televisi sering diproduksi dalam jumlah yang kecil
• Menurut Naratama, drama (fiksi) televisi adalah format acara televisi yang diproduksi dan dicipta melalui proses imajinasi kreatif dari kisah-kisah drama atau fiksi yang di rekayasa dan di kreasi ulang. Format yang digunakan merupakan interpretasi kisah kehidupan yang diwujudkan dalam suatu runtutan cerita dalam sejumlah adegan. Adegan-adegan tersebut akan menggabungkan antara realitas kenyataan hidup dengan fiksi atau imajinasi para kreatornya. Contoh drama percintaan (love story), tragedy, horror, komedi, legenda, aksi (action), dan sebagainya.
• Drama (non fiksi) televisi adalah format acara televisi yang di produksi dan di cipta melalui proses pengolahan imajinatif kreatif dari realitas kehidupan sehari-hari tanpa harus menginterpretasi ulang dan tanpa harus menjadi dunia khayalan. Non drama bukanlah sebuah runtutan cerita fiksi dari setiap pelakunya. Untuk itu, format-format progran acara non-drama merupakan sebuah runtutan pertunjukan kreatif yang mengutamakan unsur hiburan yang dipenuhi dengan aksi. Gaya, dan musik. Contoh: Talk Show, Konser musik, dan variety show.
• Drama televisi, berbeda dengan berita (news).
Sinetron
• Drama sinetron merupakan karya drama yang diperuntukkan bagi media sinetron (sinema elektronik)
• Mirip dengan Film, namun lebih banyak merupakan persoalan keluarga. Namun berbeda dengan film karena media yang berbeda.
• Komunikasi dingin, karena tidak ada interaksi antara penonton dan pertunjukannya.
• Bersifat audio-visual. Karena sifatnya tersebut, penonton seperti menyaksikan drama panggung, namun dalam frame yang lebih kecil.
• Telah menjadi industri, karena meningkatnya kecenderungan publik berhubungan dengan televisi. Sinetron dalam satu dasa warsa ini berkembang sedemikian pesat, karena dukungan yang besar, dan diindikasikan dapat menggantikan film dalam memenuhi tontonan publik.
• Baik Sinetron maupun drama televisi, terdapat tiga korporasi penting, yaitu produser, penyutradaraan (sutradara), dan penulis naskah
• Memiliki konteks hiburan, dan beberapa hal yang berkaitan dengan drama radio, seperti sifat drama maupun mekanisme drama fiksi dan non fiksi
Ringkasan
Penerapan drama yang sangat luas, memungkinkan drama dapat terus mengalami perkembangan yang signifikan. Namun demikian, pasang surut perkembangan penerapan drama tersebut, juga ditentukan oleh pekembangan teknologi maupun kondisi sosial ekonomi. Persoalan ekonomi menjadi penting ketika media televisi maupun radio mendapat dukungan dari iklan yang menghidupi mereka.
Topik Diskusi
1. Jelaskan perbedaan drama panggung, radio, televisi dan sinetron
2. Bagaimana pendapat anda tentang penerapan masing-masing drama panggung, radio, televisi dan televisi pada masa sekarang ini
3. Jelaskan perkembangan teknologi dalam penerapan drama
Bersambung ke Pertemuan 7
(selanjutnya –lebih rinci dan lengkap, dapat mengikuti perkuliahan Drama Televisi dan Drama Radio)
Dramaturgi I-5
DRAMATURGI I
Pertemuan 5
Konvensi Panggung, Gaya Pemanggungan,
Dialog dan Spektakel, Manajemen Pentas
• Kita mengenal empat bentuk dasar panggung (stage), yakni panggung prosenium, arena, panggung dorong, dan panggung dorong dengan tiga-perempat tempat duduk
• Bentuk-bentuk panggung ini memiliki lingkungan yang berbeda. Lingkungan ini mempengaruhi seluruh aspek pertunjukan yang ada. Pengaruh ini memiliki konvensi yang berbeda-beda pula.
• Bentuk panggung prosenium yang pertama kali diperkenalkan pada era Renaissance di Italia.
• Panggung arena kita kenal dalam banyak teater tradisional kita. Sedangkan panggung dorong belum banyak digunakan di Indonesia.
• Gaya pemanggungan dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya bentuk panggung, aliran dramatik, konsepsi sutradara, kecenderungan pemeranan aktor, dan wacana publik.
Manajemen Pementasan
• Produksi pertunjukan teater adalah kegiatan yang melibatkan banyak sektor/bagian, dan pihak terkait yang terintegratif. Sektor/bagian dan pihak-pihak tersebut dapat dibagi menjadi dua sektor, yakni Sektor Artistik yang terdiri dari Sutradara, Aktor, Penata artistik atau art director (tata panggung, tata rias, tata kostum, tata cahaya dan suara) yang dilengkapi dengan pimpinan panggung (stage manager).
• Sektor kedua adalah manajemen produksi (Pimpinan Produksi, pengembangan publik, Pemasaran, Pengelola keuangan, dan lain-lain), serta beberapa sektor yang lebih kecil lagi, seperti penjual tiket, hubungan masyarakat yang terdiri dari pengelola publikasi, pembuat dokumentasi, pencari relasi atau sponsorship
• Keseluruhan komponen tersebut bukan berarti terpisah satu sama lainnya. Bagaimanapun juga, sektor atau bidang yang bukan berkaitan dengan artistik, harus memahami berbagai kebutuhan yang diperlukan dalam penataan artistik. Kesepahaman diantara kedua bidang ini secara langsung maupun tidak langsung, saling menunjang keberhasilan produksi teater. Untuk itu pula, kedua bidang ini memiliki upaya yang sama dalam mewujudkan sebuah produksi teater. Artinya, tidak satu bidang pun yang dianggap lebih dominan satu sama lain.
• Manajemen pementasan merupakan sebuah proses produksi. Menurut James A.F. Stoner, secara intrinsik manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan pengguna sumber daya-sumber daya organisasi lainnya, agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Lebih jauh Hani Handoko menempatkan manajemen sebagai seni yang mengandung arti bahwa hal itu adalah kemampuan atau ketrampilan pribadi (1999: 8). Manajemen produksi dalam teater, memang bukan manajemen barang yang dapat dilihat secara kasat mata. Tetapi, sebuah pengelolaan produksi yang terjadi dalam satu waktu tertentu, atau sebuah pertunjukan yang sesaat. Sehingga, pola pengelolaannya berbeda dengan manajemen produksi pada umumnya.
• Melalui manajemen pementasan teater ini kita mengetahui bagaimana sebuah produksi teater dilakukan. Hal ini juga sangat penting untuk mengetahui berbagai kemampuan yang kita miliki sebelumnya, misalnya kemampuan berperan, menyutradarai, penataan artistik hingga mengelola manajemen produksi. Meminjam pernyataan Ratna Riantiarno, bahwa “berbicara produksi teater, mustahil untuk tidak membicarakan perihal manajemen yang sering dilupakan oleh para seniman/pekerja Teater, Tari atau Musik.
• Di samping itu, produksi teater tidak terlepas dengan aspek upaya mencapai tujuan, yakni memproduksi teater. Untuk mencapai tujuan tersebut, terdapat berbagai proses yang panjang, mulai dari perencanaan produksi, pelaksanaan produksi hingga mengevaluasi proses produksi tersebut. Banyak bukti menunjukkan berbagai kegagalan dalam proses produksi teater, karena tidak terjalinnya hubungan aspek perencanaan dengan aspek pelaksanaan produksi. Begitu pula dengan banyaknya pelaksanaan produksi yang tidak berkelanjutan, karena tidak adanya aspek pengevaluasian yang baik. Hal ini bisa terjadi karena tidak semua komponen organisasi yang terlibat, memiliki kepercayaan yang sama dalam proses manajemen produksi. Satu hal pula yang sering dilupakan adalah, bahwa ”fakta kebutuhan yang di sebut William Butler Yeats, ”usaha teater, mengelola manusia (theatre bussines, management of man)” –fisik dan tekanan komersial tak dapat dihindari dalam teater sebagai insti¬tusi sosial dan ekonomi.
Ringkasan
Konvensi panggung mempengaruhi seluruh aspek yang ada di atas panggung. Sedangkan gaya pemanggungan sangat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya karya drama, gagasan sutradara, kecenderungan penonton, dan sutuasi yang muncul dari keinginan para pelaku teater untuk membangun teater yang sesuai dengan warna kultural dan ciri suatu pertunjukan.
Dialog merupakan sarana seorang pemain atau aktor untuk mengkomunikasikan dirinya pada penonton. Sedangkan spektakel merupakan unsur tontonan besar dapat menjadi komponen maupun alat dari aktor untuk menyampaikan atau mempersembahkan dirinya pada penonton.
Struktur Manajemen Pentas Gabungan versi Teater KOMA
Produser
Sutradara
Kelompok Kelompok
Administrasi Pimpinan Produksi Manajemen
Teater Panggung
Naskah
Keuangan Marketing Rumah Tangga
-Modal -Publikasi -Sekretariat
-Penyusunan -Ticketing -Perizinan
Anggaran -Buku Acara -Tempat Latihan
-Mencatat -Sponsor -Gedung Pertunjukan
Pengeluaran -Dokumentasi -Konsumsi
-Memonitor -Humas -Transportasi
Anggaran -Keamanan
-Kesehatan
Pekerja Penata Artistik Penata Musik
-Stage Manager -Kostum -Pemusik
-Asisten Sutradara -Tata Rias & Rambut -Peralatan Musik
-Aktor/Aktris -Property -Penata Suara
-Pencatat -Seting Panggung Penyanyi
-Crew Panggung -Disain Lampu
-Pembantu -Grafis
Umum -Efek Spesial Penata Gerak
-Penari
-Aktor/Aktris
Dikutip dari:
Tommy F. Awuy, at. al (penyunting), 1999, Teater Indonesia, Konsep, Sejarah, Problema, Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, hal. 360
Topik Diskusi
1. Bagaimana pendapat anda perbedaan konvensi panggung dapat mempengaruhi penerimaan penonton terhadap teater.
2. Bacalah sebuah naskah, lalu bayangkanlah bagaimana gaya pertunjukan yang tepat menurut anda. Lalu, saksikanlah pertunjukan teater, dan amatilah gaya pemanggungannya.
3. Jelaskanlah, apakah yang mempengaruhi gaya pemanggungan
4. Bagaimana peran dialog dan spektakel dalam suatu pertunjukan teater.
5. Bagaimana manajemen pementasan yang baik menurut anda, dan bagaimana anda mencermati berbagai pelaksanaan manajemen pementasan yang pernah anda saksikan
Bersambung ke Pertemuan 6
Pertemuan 5
Konvensi Panggung, Gaya Pemanggungan,
Dialog dan Spektakel, Manajemen Pentas
• Kita mengenal empat bentuk dasar panggung (stage), yakni panggung prosenium, arena, panggung dorong, dan panggung dorong dengan tiga-perempat tempat duduk
• Bentuk-bentuk panggung ini memiliki lingkungan yang berbeda. Lingkungan ini mempengaruhi seluruh aspek pertunjukan yang ada. Pengaruh ini memiliki konvensi yang berbeda-beda pula.
• Bentuk panggung prosenium yang pertama kali diperkenalkan pada era Renaissance di Italia.
• Panggung arena kita kenal dalam banyak teater tradisional kita. Sedangkan panggung dorong belum banyak digunakan di Indonesia.
• Gaya pemanggungan dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya bentuk panggung, aliran dramatik, konsepsi sutradara, kecenderungan pemeranan aktor, dan wacana publik.
Manajemen Pementasan
• Produksi pertunjukan teater adalah kegiatan yang melibatkan banyak sektor/bagian, dan pihak terkait yang terintegratif. Sektor/bagian dan pihak-pihak tersebut dapat dibagi menjadi dua sektor, yakni Sektor Artistik yang terdiri dari Sutradara, Aktor, Penata artistik atau art director (tata panggung, tata rias, tata kostum, tata cahaya dan suara) yang dilengkapi dengan pimpinan panggung (stage manager).
• Sektor kedua adalah manajemen produksi (Pimpinan Produksi, pengembangan publik, Pemasaran, Pengelola keuangan, dan lain-lain), serta beberapa sektor yang lebih kecil lagi, seperti penjual tiket, hubungan masyarakat yang terdiri dari pengelola publikasi, pembuat dokumentasi, pencari relasi atau sponsorship
• Keseluruhan komponen tersebut bukan berarti terpisah satu sama lainnya. Bagaimanapun juga, sektor atau bidang yang bukan berkaitan dengan artistik, harus memahami berbagai kebutuhan yang diperlukan dalam penataan artistik. Kesepahaman diantara kedua bidang ini secara langsung maupun tidak langsung, saling menunjang keberhasilan produksi teater. Untuk itu pula, kedua bidang ini memiliki upaya yang sama dalam mewujudkan sebuah produksi teater. Artinya, tidak satu bidang pun yang dianggap lebih dominan satu sama lain.
• Manajemen pementasan merupakan sebuah proses produksi. Menurut James A.F. Stoner, secara intrinsik manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan pengguna sumber daya-sumber daya organisasi lainnya, agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Lebih jauh Hani Handoko menempatkan manajemen sebagai seni yang mengandung arti bahwa hal itu adalah kemampuan atau ketrampilan pribadi (1999: 8). Manajemen produksi dalam teater, memang bukan manajemen barang yang dapat dilihat secara kasat mata. Tetapi, sebuah pengelolaan produksi yang terjadi dalam satu waktu tertentu, atau sebuah pertunjukan yang sesaat. Sehingga, pola pengelolaannya berbeda dengan manajemen produksi pada umumnya.
• Melalui manajemen pementasan teater ini kita mengetahui bagaimana sebuah produksi teater dilakukan. Hal ini juga sangat penting untuk mengetahui berbagai kemampuan yang kita miliki sebelumnya, misalnya kemampuan berperan, menyutradarai, penataan artistik hingga mengelola manajemen produksi. Meminjam pernyataan Ratna Riantiarno, bahwa “berbicara produksi teater, mustahil untuk tidak membicarakan perihal manajemen yang sering dilupakan oleh para seniman/pekerja Teater, Tari atau Musik.
• Di samping itu, produksi teater tidak terlepas dengan aspek upaya mencapai tujuan, yakni memproduksi teater. Untuk mencapai tujuan tersebut, terdapat berbagai proses yang panjang, mulai dari perencanaan produksi, pelaksanaan produksi hingga mengevaluasi proses produksi tersebut. Banyak bukti menunjukkan berbagai kegagalan dalam proses produksi teater, karena tidak terjalinnya hubungan aspek perencanaan dengan aspek pelaksanaan produksi. Begitu pula dengan banyaknya pelaksanaan produksi yang tidak berkelanjutan, karena tidak adanya aspek pengevaluasian yang baik. Hal ini bisa terjadi karena tidak semua komponen organisasi yang terlibat, memiliki kepercayaan yang sama dalam proses manajemen produksi. Satu hal pula yang sering dilupakan adalah, bahwa ”fakta kebutuhan yang di sebut William Butler Yeats, ”usaha teater, mengelola manusia (theatre bussines, management of man)” –fisik dan tekanan komersial tak dapat dihindari dalam teater sebagai insti¬tusi sosial dan ekonomi.
Ringkasan
Konvensi panggung mempengaruhi seluruh aspek yang ada di atas panggung. Sedangkan gaya pemanggungan sangat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya karya drama, gagasan sutradara, kecenderungan penonton, dan sutuasi yang muncul dari keinginan para pelaku teater untuk membangun teater yang sesuai dengan warna kultural dan ciri suatu pertunjukan.
Dialog merupakan sarana seorang pemain atau aktor untuk mengkomunikasikan dirinya pada penonton. Sedangkan spektakel merupakan unsur tontonan besar dapat menjadi komponen maupun alat dari aktor untuk menyampaikan atau mempersembahkan dirinya pada penonton.
Struktur Manajemen Pentas Gabungan versi Teater KOMA
Produser
Sutradara
Kelompok Kelompok
Administrasi Pimpinan Produksi Manajemen
Teater Panggung
Naskah
Keuangan Marketing Rumah Tangga
-Modal -Publikasi -Sekretariat
-Penyusunan -Ticketing -Perizinan
Anggaran -Buku Acara -Tempat Latihan
-Mencatat -Sponsor -Gedung Pertunjukan
Pengeluaran -Dokumentasi -Konsumsi
-Memonitor -Humas -Transportasi
Anggaran -Keamanan
-Kesehatan
Pekerja Penata Artistik Penata Musik
-Stage Manager -Kostum -Pemusik
-Asisten Sutradara -Tata Rias & Rambut -Peralatan Musik
-Aktor/Aktris -Property -Penata Suara
-Pencatat -Seting Panggung Penyanyi
-Crew Panggung -Disain Lampu
-Pembantu -Grafis
Umum -Efek Spesial Penata Gerak
-Penari
-Aktor/Aktris
Dikutip dari:
Tommy F. Awuy, at. al (penyunting), 1999, Teater Indonesia, Konsep, Sejarah, Problema, Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, hal. 360
Topik Diskusi
1. Bagaimana pendapat anda perbedaan konvensi panggung dapat mempengaruhi penerimaan penonton terhadap teater.
2. Bacalah sebuah naskah, lalu bayangkanlah bagaimana gaya pertunjukan yang tepat menurut anda. Lalu, saksikanlah pertunjukan teater, dan amatilah gaya pemanggungannya.
3. Jelaskanlah, apakah yang mempengaruhi gaya pemanggungan
4. Bagaimana peran dialog dan spektakel dalam suatu pertunjukan teater.
5. Bagaimana manajemen pementasan yang baik menurut anda, dan bagaimana anda mencermati berbagai pelaksanaan manajemen pementasan yang pernah anda saksikan
Bersambung ke Pertemuan 6
Menurunnya Apresiasi Budaya
CIREBON, (PR).-Apresiasi masyarakat Jawa Barat terhadap budaya dan kebudayaan khas daerahnya dinilai terus merosot. Hal ini merupakan ancaman serius bagi kelestariannya. Bahkan bila tidak diantisipasi bukan tidak mungkin khazanah budaya Jabar bisa terancam punah.
Demikian ditegaskan Gubernur Jabar, H. Danny Setiawan saat membuka acara "Silaturahmi & Dialog Budaya Jabar" di Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon, Rabu (6/7). Kegiatan itu diselenggarakan LKC (Lembaga Kebudayaan Cirebon), berisi dialog soal kebudayaan serta pergelaran seni tradisional daerah di Wilayah III Cirebon yang berlangsung di depan gedung Kantor Bakorwil.
Di Keraton Kasepuhan, selain membuka acara itu, Gubernur Danny juga melakukan dialog interaktif dengan seniman, budayawan dan sejarawan dari Wilayah III Cirebon dan daerah lain di Jabar. Mendampingi Gubernur, Ketua DPRD Jabar, H.A.M., Ruslan, Sultan Kasepuhan, H. Maulana Pakuningrat, Wakil Wali Kota Cirebon, H. Agus Alwafier serta putra mahkota Kraton Kasepuhan, P.R.A. Arief Natadiningrat yang juga bertindak sebagai moderator.
Peringatan soal ancaman kepunahan budaya Jabar, dikemukakan Gubernur Danny saat memberi sambutan di depan sekira 100 peserta silaturahmi itu. Dituturkan, belakangan ini ada kecenderungan kuat bahwa apresiasi warga Jabar terhadap khazanah budayanya terus merosot.
Gempuran budaya barat yang menampilkan hedonisme dan materialisme di balik kemajuan teknologi informasi, menjadikan masyarakat Jabar secara tidak sadar berpaling dari kebudayaannya. Hal itu diperkuat oleh masih rendahnya tingkat kesalehan sosial masyarakat. "Apresiasi masyarakar Jabar terhadap khazanah budaya sendiri terus merosot. Ini sungguh mengkhawatirkan. Misalnya apresiasi terhadap seni-seni tradisional, nyaris sudah tidak ada lagi," ujar gubernur.
Menyikapi hal itu, Gubernur Danny meminta agar masyarakat Jabar, khususnya para seniman dan budayawan, harus lebih serius memperjuangkan pelestarian seni-seni tradisional. Salah satu caranya ialah dengan menghidupkan terus budaya-budaya lokal yang menjadi modal bagi kebudayaan Jabar secara umum.
"Budaya lokal harus terus dihidupkan. Ini tanggung jawab moral masyarakat, terutama seniman dan budayawannya. Mereka dituntut harus bisa menghidupkan sekaligus juga mengaktualisasikannya dengan kebutuhan zaman. Acara seperti silaturahmi dan dialog kebudayaan ini merupakan salah satunya yang perlu terus dikembangkan sebagai momentum untuk membangkitkan khazanah budaya Jabar," tuturnya.
Visi Budaya Jabar 2010
Menyinggung soal aktualisasi, Gubernur Danny meminta seniman dan budayawan merumuskan identitas khazanah budaya lokal. Setelah itu, menyusun konsep strategi kebudayaan yang bisa terus sesuai dengan nilai-nilai kekinian dan menyentuh kebutuhan warga.
"Kita harus merumuskan bagaimana supaya budaya lokal bisa menjawab tantangan kekinian yang ada di masyarakat. Misalnya sejauh mana budaya lokal bisa menghidupkan perhatian terhadap persoalan kerusakan lingkungan hidup, lahan kritis dan ancaman bencana alam. Juga dengan bagaimana mengondisikan untuk merangsang warga meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM dan banyak lagi," tutur Gubernur.
Pada kesempatan itu, Gubernur Danny juga mengemukakan soal visi Jabar pada tahun 2010. Target itu sebenarnya merupakan visi kebudayaan secara umum, bahwa Jabar ingin menjadi provinsi termaju serta mitra terdepan DKI Jakarta. "Visi itu merupakan program akselerasi (percepatan) pembangunan. Ada beberapa misi yang hendak dicapai, antaranya peningkatan SDM, pemantapan pemerintahan dan kehidupan sosial berdasarkan agama serta budaya lokal," tutur dia.(A-93/A-87)***
Demikian ditegaskan Gubernur Jabar, H. Danny Setiawan saat membuka acara "Silaturahmi & Dialog Budaya Jabar" di Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon, Rabu (6/7). Kegiatan itu diselenggarakan LKC (Lembaga Kebudayaan Cirebon), berisi dialog soal kebudayaan serta pergelaran seni tradisional daerah di Wilayah III Cirebon yang berlangsung di depan gedung Kantor Bakorwil.
Di Keraton Kasepuhan, selain membuka acara itu, Gubernur Danny juga melakukan dialog interaktif dengan seniman, budayawan dan sejarawan dari Wilayah III Cirebon dan daerah lain di Jabar. Mendampingi Gubernur, Ketua DPRD Jabar, H.A.M., Ruslan, Sultan Kasepuhan, H. Maulana Pakuningrat, Wakil Wali Kota Cirebon, H. Agus Alwafier serta putra mahkota Kraton Kasepuhan, P.R.A. Arief Natadiningrat yang juga bertindak sebagai moderator.
Peringatan soal ancaman kepunahan budaya Jabar, dikemukakan Gubernur Danny saat memberi sambutan di depan sekira 100 peserta silaturahmi itu. Dituturkan, belakangan ini ada kecenderungan kuat bahwa apresiasi warga Jabar terhadap khazanah budayanya terus merosot.
Gempuran budaya barat yang menampilkan hedonisme dan materialisme di balik kemajuan teknologi informasi, menjadikan masyarakat Jabar secara tidak sadar berpaling dari kebudayaannya. Hal itu diperkuat oleh masih rendahnya tingkat kesalehan sosial masyarakat. "Apresiasi masyarakar Jabar terhadap khazanah budaya sendiri terus merosot. Ini sungguh mengkhawatirkan. Misalnya apresiasi terhadap seni-seni tradisional, nyaris sudah tidak ada lagi," ujar gubernur.
Menyikapi hal itu, Gubernur Danny meminta agar masyarakat Jabar, khususnya para seniman dan budayawan, harus lebih serius memperjuangkan pelestarian seni-seni tradisional. Salah satu caranya ialah dengan menghidupkan terus budaya-budaya lokal yang menjadi modal bagi kebudayaan Jabar secara umum.
"Budaya lokal harus terus dihidupkan. Ini tanggung jawab moral masyarakat, terutama seniman dan budayawannya. Mereka dituntut harus bisa menghidupkan sekaligus juga mengaktualisasikannya dengan kebutuhan zaman. Acara seperti silaturahmi dan dialog kebudayaan ini merupakan salah satunya yang perlu terus dikembangkan sebagai momentum untuk membangkitkan khazanah budaya Jabar," tuturnya.
Visi Budaya Jabar 2010
Menyinggung soal aktualisasi, Gubernur Danny meminta seniman dan budayawan merumuskan identitas khazanah budaya lokal. Setelah itu, menyusun konsep strategi kebudayaan yang bisa terus sesuai dengan nilai-nilai kekinian dan menyentuh kebutuhan warga.
"Kita harus merumuskan bagaimana supaya budaya lokal bisa menjawab tantangan kekinian yang ada di masyarakat. Misalnya sejauh mana budaya lokal bisa menghidupkan perhatian terhadap persoalan kerusakan lingkungan hidup, lahan kritis dan ancaman bencana alam. Juga dengan bagaimana mengondisikan untuk merangsang warga meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM dan banyak lagi," tutur Gubernur.
Pada kesempatan itu, Gubernur Danny juga mengemukakan soal visi Jabar pada tahun 2010. Target itu sebenarnya merupakan visi kebudayaan secara umum, bahwa Jabar ingin menjadi provinsi termaju serta mitra terdepan DKI Jakarta. "Visi itu merupakan program akselerasi (percepatan) pembangunan. Ada beberapa misi yang hendak dicapai, antaranya peningkatan SDM, pemantapan pemerintahan dan kehidupan sosial berdasarkan agama serta budaya lokal," tutur dia.(A-93/A-87)***
Dramaturgi I-4
DRAMATURGI I
Pertemuan ke 4
Tema, Alur, dan Karakter/Perwatakan
Tema:
Inti, esensi atau pokok ide suatu cerita/penceritaan
Plot /ALUR
Kerangka penceritaan yang mengubah jalannya cerita
Awal
• Protasis/Eksposisi
• Epitasio/Komplikasi
Tengah
• Catastasis/Klimaks
• Krisis
• Epitasio/ Resolusi
Akhir
• Catastrophe/Kesimpulan
• Penyelesaian
• Denoument
• Catarsis
Protasis : Awal atau permulaan suatu cerita/Eksposisi
Epitasio : Jalinan kejadian yang memunculkan berbagai pertentangan/Komplikasi
Catastasis : Puncak peristiwa/Klimaks
Catastrophe : Penutup: Bencana/Kesimpulan/Penyelesaian
Teori Pola Peristiwa Bertolak pada Tokoh Cerita
• Perubahan : Berubah Bentrok
• Belajar : Bijaksana
• Kejayaan-Kejatuhan : Baik Buruk
• Melawan Kejahatan : Perjuangan
Irama Tragik Perjalanan Spiritual
Poema (Hubris) : Kehendak (sombong)
Pathema (Nemesis) : Tantangan (Dendam)
Mathema (Dike) : Bijaksana (Keadilan Dewata)
Memahami berbagai jenis Plot:
a. Plot Linier
b. Plot Sirkuler
c. Plot Episodik
Plot Linier
cerita bergerak secara berurutan dari A-Z
A Z Plot ini sangat umum digunakan dalam karya-karya drama, karena (kesannya) lebih mudah untuk ditangkap atau diterima oleh pembacanya. Disamping itu, plot linier ini juga tidak terlalu rumit dalam proses analisanya, karena secara structural lebih singkat dan padat. Bandingkanlah dengan struktur dramatik Aristoteles yang berbentuk piramida dibawah ini:
Klimaks
Komplikasi Resolusi
Eksposisi (Katarsis) Konklusi
Secara sederhana plot ini dapat dibagi dalam tiga bagian, yakni Awal (eksposisi), Tengah (Klimaks), dan Akhir (Konklusi atau Kesimpulan)
Plot linier dapat pula disebut plot Klimaks, karena cerita dimulai pada saat terjadinya klimaks.
Plot Sirkuler
cerita berkisar pada satu peristiwa saja. Plot ini sedikit rumit bila kita tidak mengenali karakter filosofis dari karya drama tersebut. Kesiasiaan manusia yang menjadi landasan karakter filosofis plot ini, menciptakan berbagai pengulangan dan pembuatan unsur plot baru yang tidak saling berkaitan. Kaitannya, justru terletak dari ketidaklogisan hubungan antar plot. Hal ini disebabkan oleh penempatan karakter atau penokohan yang memang dirancang tidak logis, terkesan tidak masuk akal (irrasional). Namun demikian, pola antar plot ini justru sangat rasional bila kita memahami dari karakter filosofis yang dimiliki tokoh-tokoh ceritanya. Plot semacam ini dapat kita lihat dalam sebagian karya Putu Wijaya, Samuel Beckett maupun Ionesco
Plot Episodik
jalinan cerita yang terpisah, kemudian bertemu pada akhir cerita. Drama episodik awalnya dimulai secara relatif dalam cerita, dan tidak memadatkan perilaku tetapi justru memperluasnya. Kekhasan drama episodik meliputi suatu perluasan masa waktu, kadang-kadang bertahun-tahun, dan jarak tempat yang lebih jauh. Dalam satu drama kita dapat melanglang buana kemana saja: ke ruang penyimpanan kecil, ruang perjamuan yang luas, tanah lapang yang terbuka, dan puncak gunung. Adegan pendek, terkadang hanya setengah halaman atau sangat panjang, melalui adegan panjang yang berganti-ganti. Contoh yang menunjukkan alam perluasan drama episodik: Antony dan Cleopatra karya Shakespeare memiliki tiga puluh empat tokoh dan lebih empat puluh adegan, bisa juga kita lihat pada lakon Faust (Wolfgang von Goethe), dan sebagian besar hikayat dan cerita-cerita pada teater tradisional kita.
Karakter/Perwatakan
• Sosiologis
Kedudukan sosial tokoh cerita: Ayah, Ibu, Anak, Bupati, Raja, Lurah, Kepala Kampung, Dokter, Hansip, Pedagang, dll
• Psikologis
Kondisi Kejiwaan tokoh cerita: Rajin, Pemalas, Peramah, Pemarah, Iri Hati, Pembohong, Setia, Baik Hati, Sabar, dll
• Fisiologis
Keadaan Fisik tokoh cerita: Tinggi, Pendek, Kekar, Ganteng, Cantik, Berambut Ikal, Bermata Sipit, Gemuk, Kurus, dll
Latar/Setting
Tempat Terjadinya Peristiwa. Seperti Hutan belantara, ruang tamu, ruang makan, kamar tidur, dll.
Ringkasan
Tema cerita memegang peranan penting, karena melalui tema cerita, pembaca drama maupun penonton teater dapat berinteraksi lebih fokus dalam memahami cerita atau pertunjukan. Sedangkan plot merupakan pedoman pembaca dalam mengetahui pergerakan cerita dari berbagai situasi yang terjadi. Karakter tokoh cerita merupakan media penting dalam memahami kontekstualisasi cerita. Dan, tempat terjadinya peristiwa merupakan pedoman interaksi yang faktual.
Topik Diskusi
1. Buatlah contoh cerita dengan mengindikasikan plot/alur awal-tengah-akhir. Lalu, tentukanlah temanya
2. Bacalah sebuah naskah drama, lalu temukanlah karakter sosiologis, psikologis dan fisiologisnya.
3. Bagaimana cara menentukan latar suatu peristiwa? Dan, bagaimana melakukan identifikasi terhadap latar yang berbeda-beda. Serta, jelaskan fungsi latar dalam suatu lakon drama.
Bersambung ke Pertemuan 5
Pertemuan ke 4
Tema, Alur, dan Karakter/Perwatakan
Tema:
Inti, esensi atau pokok ide suatu cerita/penceritaan
Plot /ALUR
Kerangka penceritaan yang mengubah jalannya cerita
Awal
• Protasis/Eksposisi
• Epitasio/Komplikasi
Tengah
• Catastasis/Klimaks
• Krisis
• Epitasio/ Resolusi
Akhir
• Catastrophe/Kesimpulan
• Penyelesaian
• Denoument
• Catarsis
Protasis : Awal atau permulaan suatu cerita/Eksposisi
Epitasio : Jalinan kejadian yang memunculkan berbagai pertentangan/Komplikasi
Catastasis : Puncak peristiwa/Klimaks
Catastrophe : Penutup: Bencana/Kesimpulan/Penyelesaian
Teori Pola Peristiwa Bertolak pada Tokoh Cerita
• Perubahan : Berubah Bentrok
• Belajar : Bijaksana
• Kejayaan-Kejatuhan : Baik Buruk
• Melawan Kejahatan : Perjuangan
Irama Tragik Perjalanan Spiritual
Poema (Hubris) : Kehendak (sombong)
Pathema (Nemesis) : Tantangan (Dendam)
Mathema (Dike) : Bijaksana (Keadilan Dewata)
Memahami berbagai jenis Plot:
a. Plot Linier
b. Plot Sirkuler
c. Plot Episodik
Plot Linier
cerita bergerak secara berurutan dari A-Z
A Z Plot ini sangat umum digunakan dalam karya-karya drama, karena (kesannya) lebih mudah untuk ditangkap atau diterima oleh pembacanya. Disamping itu, plot linier ini juga tidak terlalu rumit dalam proses analisanya, karena secara structural lebih singkat dan padat. Bandingkanlah dengan struktur dramatik Aristoteles yang berbentuk piramida dibawah ini:
Klimaks
Komplikasi Resolusi
Eksposisi (Katarsis) Konklusi
Secara sederhana plot ini dapat dibagi dalam tiga bagian, yakni Awal (eksposisi), Tengah (Klimaks), dan Akhir (Konklusi atau Kesimpulan)
Plot linier dapat pula disebut plot Klimaks, karena cerita dimulai pada saat terjadinya klimaks.
Plot Sirkuler
cerita berkisar pada satu peristiwa saja. Plot ini sedikit rumit bila kita tidak mengenali karakter filosofis dari karya drama tersebut. Kesiasiaan manusia yang menjadi landasan karakter filosofis plot ini, menciptakan berbagai pengulangan dan pembuatan unsur plot baru yang tidak saling berkaitan. Kaitannya, justru terletak dari ketidaklogisan hubungan antar plot. Hal ini disebabkan oleh penempatan karakter atau penokohan yang memang dirancang tidak logis, terkesan tidak masuk akal (irrasional). Namun demikian, pola antar plot ini justru sangat rasional bila kita memahami dari karakter filosofis yang dimiliki tokoh-tokoh ceritanya. Plot semacam ini dapat kita lihat dalam sebagian karya Putu Wijaya, Samuel Beckett maupun Ionesco
Plot Episodik
jalinan cerita yang terpisah, kemudian bertemu pada akhir cerita. Drama episodik awalnya dimulai secara relatif dalam cerita, dan tidak memadatkan perilaku tetapi justru memperluasnya. Kekhasan drama episodik meliputi suatu perluasan masa waktu, kadang-kadang bertahun-tahun, dan jarak tempat yang lebih jauh. Dalam satu drama kita dapat melanglang buana kemana saja: ke ruang penyimpanan kecil, ruang perjamuan yang luas, tanah lapang yang terbuka, dan puncak gunung. Adegan pendek, terkadang hanya setengah halaman atau sangat panjang, melalui adegan panjang yang berganti-ganti. Contoh yang menunjukkan alam perluasan drama episodik: Antony dan Cleopatra karya Shakespeare memiliki tiga puluh empat tokoh dan lebih empat puluh adegan, bisa juga kita lihat pada lakon Faust (Wolfgang von Goethe), dan sebagian besar hikayat dan cerita-cerita pada teater tradisional kita.
Karakter/Perwatakan
• Sosiologis
Kedudukan sosial tokoh cerita: Ayah, Ibu, Anak, Bupati, Raja, Lurah, Kepala Kampung, Dokter, Hansip, Pedagang, dll
• Psikologis
Kondisi Kejiwaan tokoh cerita: Rajin, Pemalas, Peramah, Pemarah, Iri Hati, Pembohong, Setia, Baik Hati, Sabar, dll
• Fisiologis
Keadaan Fisik tokoh cerita: Tinggi, Pendek, Kekar, Ganteng, Cantik, Berambut Ikal, Bermata Sipit, Gemuk, Kurus, dll
Latar/Setting
Tempat Terjadinya Peristiwa. Seperti Hutan belantara, ruang tamu, ruang makan, kamar tidur, dll.
Ringkasan
Tema cerita memegang peranan penting, karena melalui tema cerita, pembaca drama maupun penonton teater dapat berinteraksi lebih fokus dalam memahami cerita atau pertunjukan. Sedangkan plot merupakan pedoman pembaca dalam mengetahui pergerakan cerita dari berbagai situasi yang terjadi. Karakter tokoh cerita merupakan media penting dalam memahami kontekstualisasi cerita. Dan, tempat terjadinya peristiwa merupakan pedoman interaksi yang faktual.
Topik Diskusi
1. Buatlah contoh cerita dengan mengindikasikan plot/alur awal-tengah-akhir. Lalu, tentukanlah temanya
2. Bacalah sebuah naskah drama, lalu temukanlah karakter sosiologis, psikologis dan fisiologisnya.
3. Bagaimana cara menentukan latar suatu peristiwa? Dan, bagaimana melakukan identifikasi terhadap latar yang berbeda-beda. Serta, jelaskan fungsi latar dalam suatu lakon drama.
Bersambung ke Pertemuan 5
Langganan:
Postingan (Atom)
